Jumat, 14 Februari 2020

Komposisi pasukan muslim Perang Salib

Komposisi pasukan muslim Perang Salib


Dalam peperangan yang sudah berlangsung lama maka pasukan Muslim mempunyai pasukan dari berbagai kalangan. Pasukan asa pasukan satria berkuda dari desa, kemudian juga sukarelawan tidka tetap. Bahkan penggunaan pasukan profesional yang berasal dari budak negeri darul Harb.

Sejakb abatf ke 9 , para penguasa muslim lebih mengutamakan prajurit profesional daripada Kobtigen suku, Badui, Berber atau Turki Nomaden. Karena kertelibatan  kelompok ini dapat mengantarkan kepada kekuasaan. Sebaliknya hal itu tidka ditwmukan pada prajuirt profesional karena mereka tidak terikat dengan suku➡️ akan tetapi dari persatuan budak berkumpul mampu menjadi penguasa seperti Mamluk

Untuk peperangan skala kecil maka pasukan ksatria saja yang digunakan.

Salah satu tulang punggung adalahbkaun Turki Nomaden yang kehidupan mereka berpindah akan tetapi mereka mempunyai ekmampian tempur yang hebat. Tahir Merzavi menyebut mwreka orang yang terkuat dan dan palibg bertahan dalam pertempuran dan peperangan.

Zengi juga memanfaatkan mereka dalam nekahloan militer
Para pemimpin Islam mendapat berkah dari keberadaan mereka begitu juga penduduk setempat m
Namun sejak Buzham Al Mulk penggunaan Turki Jimaden inibsepertinya menguilqng. Nizam berpendapat kalau efektif dari gabubgan suku dari pada ras tertentu.

➡️Hal ini mungkin bisa melahirkan potensi  chaos jika mereka yang digunakan. Sevara alamiah manusia akan merasa ialah yang berjasa.

Pasukan Fathimiyah

Fatimiyyah bukan bagian islam namun ia merupakan lawan dari pasukan Salib.  Karenanya mereka juga mempunyai komposisi masukan Magribi dan pasukan Masriq. Pasukan Maghribi ialah orang-orang Amazigh atau suku Berber sedangkan pasukan Mashriq adalah orang Turki. Terkadang keduanya terjadi konflik yang menyebabkan bahaya bagi Fathimiyah sendiri.

 

Kamis, 13 Februari 2020

Khalifah Abbasiyah pertama

As Saffah Khalifah Abbasiyah pertama

Nama lengkap Khalifah Abbasiyah pertama adalah Abul Abbas bin Muhammad bin Abdullah bin Abbas. Lahir di Hamimah pada tahun 40 H. Ia di baiat di Kufah pada hari Kamis 13 Rabiul Awwal tahun 132 H/30 Oktober 749. Ia berkuasa untuk waktu kira-kira empat tahun.
Ia memindahkan kekuasaan dari Kufah ke Hirah karena tidak mempercayai penduduk Kufah.
Sela hidupnya ia harus melawan sisa-sisa kekuatan Umayyah seperti Yazid bin Hubairah yang menjadi Gubernur Irak Umayyah. Ia berlaku kejam pada orang-orang Umayyah . Ia mengejar keturunan Umayyah untuk ditangkap.
Mereka membongkar kuburan pemimpin Umayyah seperti Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu Anhu, Yazid bin Muawiyyah dan Abdul Malik bin Marwan. Mereka Merusak mayat Hisyam bin Abdul Malik yang masih utuh. Setelah orang terpenting terbunuh As Saffah memberikan perlindungan pada akeluarga Umayyah yakni Amir bin Muawiyah.
As Saffah juga harus berhadapan dengan teman seperjuangan seperti Abu Salamah Hafs bin Sulaiman yang kenal memindahkan kekhalifahan pada keluarga Ali. As Shafah memerintahkan Abu Muslim Al Khurasani untuk membunuh Abu Salamah.
Sementara Abu Muslim juga menuduh Sulaiman bin Katsir berkhianat dan As Saffah membunuhnya.
Selain Abu Muslim ada dua tokoh kepercayaan As Saffah yakni Abu Ja'far Alanshur yang berada di Al Jazirah, Armenia dan Irak yang nantinya menjadi Khalifah kedua dan yang ketiga adalah Abdullah bin Ali di Mesir dan Syria.

Dari Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah karangan Syaikh Muhammad Al Khudari
 

Selasa, 04 Februari 2020

Menghidupkan kembali Khalifah Abbasiyah

Banyak pecinta sejarah yang mungkin terkecoh kalau kehancuran Baghdad adalah akhir dari Khalifah Abbasiyah. Tentu ini tidak sepenuhnya benar. Karena Khalifah Abbasiyah masih ada hingga abad akhir 15 yakni sekitar tahun 1571 atau pada saat Perang Marj Dabiq.
Tentu dunia Islam sangat bersedih dengan kehilangan Khalifah yang selama ini menjadi pemimpin dunia Islam. Meski secara jujur bisa kita katakan kalau Khalifah menjelang kehancuran Banghdad tidak lebih sebuah simbol karena pihak-pihak kerarajaan bawahan yang justru "mengatur" Khalifah.
Tidak banyak buku sejarah umum yang beredar di pasar yang menyebut kalau para penguasa Mameluk berusaha untuk membangkitkan kembali Khalifah Abbasiyah.
Adapun motivasi Mamluk mendirikan kembali atau merevitalisasi kembali kalau kata itu adalah kata yang tepat untuk menghidupkan kembali Abbasiyah adalah upaya untuk mendapatkan legitimasi dari Khalifah.
Selama ini Mameluk yang keturunan budak masih dipandang tidak baik oleh penduduk Mesir. Adapun di wilayah Syam masih dikuasai oleh keluarga keturunan Shalahuddin Al Ayyubi yang merasa berhak dengan tahta Mesir.
Usaha ini dilakukan oleh Saifuddin Quthuz untuk mencari keturunan dari Abbasiyah namun ia sudah terbunuh terlebih dahulu. Akhirnya usaha ini dilanjutkan oleh penggantinya Baybars Al Bunduquri. Ia mendapatkan keturunan Abbasiyah yang terlepas dari pembantaian oleh bangsa Mongol.
Walau meragukan nasab dari Abu Ahmad yang diberi gelar Al Qosim namun tampaknya semua pihak menerima kecuali beberapa pihak di Syam. Akhirnya dibbaiat namun keberadaan Khalifah ini justru menjadi batu bagi Baybars ia pun mencari akal agar Khalifah mempunyai ruang gerak di batasi.
Pada saat itu Khalifah mempunyai keinginan untuk kembali membebaskan Baghdad namun dibekali oleh Baybars dengan pasukan yang sedikit. Sehingga Khalifah bisa dikalahkan sementara Baybars tidak mau ke Baghdad karena alasan menumpas pemberontakan di Syam.
Untuk kedua kalinya ia mengangkat kembali Khalifah Abbasiyah yang bergelar Al Munthasir yang mempunyai kekuasaan terbatas. Pemegang kekuasaan tetap di tangan Baybars dengan demikian tercapailah cita-cita dari Baybars.
#KhalifahAbbasiyah
#Mongol
#Baghdad
#Baybars
#Mameluk
#KesultananMameluk
#SultanMesir
#dinastiAyyubiyyah
Dari buku bangkit dan runtuhnya Dinasti Fathimiyah oleh Muhammad Suhail Thaqussy



 

Munculnya Orang Mongol di pentas sejarah Islam

Munculnya Mongol di Pentas Sejarah Islam Sebelumnya orang Mongol adalah penduduk negeri yang jauh dari peradaban . Mereka adalah suku nomade...